Hari Perayaan

Hari-hari perayaan agama Hindu biasanya dilaksanakan serentak di seluruh Bali seperti Galungan, Kuningan, Saraswati dan Nyepi yang biasanya dilaksanakan di Pura Jaganatha, di mana pura ini umumnya terletak di kota-kota kabupaten.
Namun, setiap Pura di Bali baik yang besar maupun kecil termasuk pura keluarga memiliki hari tertentu untuk upacara piodalannya. Untuk Pura yang besar biasanya disebut dengan hari Puja Wali sedangkan untuk Pura yang kecil biasanya disebut dengan istilah Piodalan. Biasanya Piodalan itu dirayakan setiap 210 hari menurut kalender Bali. Karena demikian banyaknya Pura di Bali, sehingga hampir setiap hari ada saja upacara piodalan yang berlangsung.

Galungan
Penjelasan Hari Raya Galungan tersurat dalam Lontar Sunarigama, di mana hari raya ini dirayakan setiap Budha Kliwon Dungulan sesuai penanggalan kalender Bali. Kata Galungan dalam bahasa Jawa bersinonim dengan kata Dungulan yang artinya menang atau unggul yang maknanya adalah mendapatkan kemenangan yang benar dalam hidup ini merupakan sesuatu yang seharusnya kita perjuangkan
Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan “Dharma” (kebenaran) melawan “Adharma”(Kebatilan). Selain itu, Galungan pada hakikatnya untuk mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap manusia untuk membangun jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan gelap (adharma) dalam diri.
Tuhan sebagai pencipta dipuji dan di puja, termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah–tengah anggota keluarga yang masih hidup. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada di sebuah Merajan/sanggah keluarga. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung, dihiasi janur dan bunga dan diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing.
Sebelum puncak perayaan Galungan ada rangkaian yang disebut sugian, embang sugian, penyajaan, dan penampahan. Sugian terdiri dari tiga kali, yaitu Budha Pon wuku Sungsang yang sering disebut Sugian Tenten. Sugian itu penyucian awal. Tenten artinya sadar atau kesadaran. Galungan hendaknya dirayakan dengan kesadaran rohani. Mengikuti tradisi hendaknya dengan kesadaran, orang yang sadar adalah orang yang bisa membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang patut dan mana yang tidak patut. Wrehaspati Wage wuku Sungsang adalah Sugian Jawa, maknanya perayaan ini untuk menyucikan bhuwana agung/alam semesta. Bhuana agung menyucikan alam lingkungan hidup kita ini. Sedangkan Sugian Bali pada Sukra Kliwon Sungsang yang bermakna sebagai media untuk menyucikan diri pribadi. Embang Sugian pada Redite Paing Wuku Dungulan yaitu untuk mengheningkan kesadaran diri sampai suci (nirmala). Esoknya pada hari penyajahan dinyatakan untuk memohon air suci sebagai permohonan restu pada Tuhan. Pada Anggara Wage wuku Dungulan disebut penampahan yang maknanya dalam hal ini adalah ”menyembelih” sifat-sifat kebinatangan yang bersembunyi dalam diri kita, seperti sifat Rajah dan Tamah. Setelah dilakukan tahapan-tahapan tersebut barulah mencapai puncak Hari Raya Galungan.
Perayaan ini biasanya diakukan persembahyangan di pagi hari dan setelah itu semua orang keluar ke jalan dengan berpakaian baru yang indah, mengunjungi sanak saudara dan handai tolan, sambil menikmati kebesaran hari raya tersebut dan bersyukur atas segala berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan yang Maha Esa.

Kuningan
Hari raya ini datangnya sepuluh hari setelah Galungan. Ini adalah hari raya khusus, di mana para leluhur yang setelah beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Sedangkan di pedesaan ada beberapa Barong “ngelawang” beberapa hari diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan / gambelan.
Dalam Kuningan menggunakan upakara sesajen yang berisi simbul tamiang dan endongan, di mana makna tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam. Oleh karena itu melalui perayaan ini umat diharapkan mampu menata kembali kehidupan yang harmonis (hita) sesuai dengan tujuan agama Hindu. Sedangkan endongan maknanya adalah perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Perayaan ini juga dimaksudkan agar umat selalu ingat kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mensyukuri karunia-Nya. Melalui perayaan ini umat juga dituntut selalu ingat menyamabraya, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial. Selain itu, melalui rerahinan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan sehingga tercipta harmonisasi alam semesta beserta isinya.

Nyepi
Nyepi adalah hari raya tahun baru caka bagi umat Hindu. Di mana pada Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.Selama 24 jam penuh kesunyian dan keheningan dijaga dan dihormati semua orang, lalu lintas kendaraan di larang, tidak boleh menyalakan lampu ataupun bekerja, setiap orang harus tinggal di rumah, sehingga kegiatan masak harus dilakukan pada hari sebelumnya.
Sehari sebelum hari raya Nyepi, upacara kurban suci mecaru untuk menenangkan roh-roh jahat dilakukan di setiap perempatan jalan, kemudian diikuti dengan pengusiran bhuta kala. Upacara ini dilakukan dari senja hingga malam hari di mana sekelompok anak- anak, dan muda-mudi berkumpul dan berbaris membawa bunyi-bunyian dan obor letupan-letupan terus dilakukan untuk menakuti-nakuti roh jahat tersebut agar keluar jauh dari desa masing-masing. Secara tradisi, pada hari Nyepi semua orang tinggal dirumah berpuasa, meditasi/semedi dan bersembahyang dan juga melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya Parisudha dimasa depan. Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.
Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kwalitas beragama. Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhkan hal-hal yang bersifat adharma.

Saraswati
Hari raya ini khusus ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Aji Saraswati, Dewi Ilmu pengetahuan dan sastra. Hari raya ini dirayakan sekali dalam 210 hari (sesuai kalender Bali yaitu pada Sabtu Umanis Watugunung. Setiap orang mempersembahkan sesajen di buku-buku, lontar dan benda benda lain yang berhubungan dengan sastra dan ilmu pengetahuan sebagai rasa syukur atas turunnya ilmu pengetahuan dan sebagai penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Sehari setelah hari saraswati disebut hari banyupinaruh, yang berarti air pengetahuan di mana filosofinya adalah pada saat manusia tersebut sudah menguasai ilmu maka dia diwisuda yang memiliki simbolisasi dibersihkan dari sisa kekotorannya, dijernihkan pikirannya lewat prosesi melukat di sungai, atau laut, atau sumber mata air lainnya. Simbolisasi di sungai karena diharapkan ilmu yang telah dipelajari saat saraswati bisa mengalir lancar, simbolisasi di laut bermakna agar ilmu yang dipelajari bisa membuat pengetahuan kita luas dan dalam serta bisa menjadi peleburan segala kebodohan dan awidya, simbolisasi di mata air karena diharapkan ilmu yang kita pelajari bisa menjadi sumber pencerahan, kehidupan tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga masyarakat banyak dan ilmu yang diperoleh manusia seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik di jalan dharma.

 

 

Responses

  1. sippphh!!! thhxxx.,.,

  2. Memohon keselamatan & perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa

  3. semoga dgn adanya pengarahan tao pemberithuan ni….,orng2 yg mlhtnya bz lbh sadar..

    • thx ats infox………….
      semoga tuhan selalu melindungi qt cmua…

  4. Smga umat yg mrayakan hri raya agma hindU d brikn kslamataN. . . Nd wlaupun bragma laend kta jg d brikan kslamatan nd kbhgiaan oLeh TUHAN YANG MAHA ESA. . .Sabbe Satta Bhavantu Sukki Tata. . .Smga smua mhkLuk brbhgia. . .

  5. Very nice vidps3atxvipx

  6. bs kenalan ga bli,,,,,apa krg dh di bali ?? berbagi ilmu bikin blog nggih krn tg baru ni .suksme dn Rahajeng Rahinan Nyepi dumogi Rahajeng sareng sami

  7. There are so many similar blogs on the Web, however they all consider only the basis. All except for yours – this truly is a valuable source of information so I’m going to check it regularly!

  8. Hgkj


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: